KONTAN.CO.ID - Langkah Komite Olimpiade Internasional (IOC) merilis kebijakan terbaru mengenai pengujian gender memicu perpecahan.
Di satu sisi, langkah ini dinilai sebagai kemenangan bagi integritas olahraga wanita, namun di sisi lain, kebijakan ini dianggap sebagai langkah mundur yang sarat muatan politik.
Kamis (26/3) waktu setempat, gelombang reaksi mulai bermunculan. Para pendukung kebijakan ini memuji IOC karena dianggap berani mengambil langkah krusial untuk melindungi kategori atlet wanita.
Sebaliknya, para kritikus memperingatkan adanya risiko trauma dan stigma, terutama bagi atlet muda di bawah umur.
Baca Juga: Fakta Menarik F1 GP Jepang 2026: Data Penting, Rekor, dan Peluang Juara
Menjaga Keadilan dengan Fakta Biologis
Fiona McAnena, Direktur Kampanye dari kelompok advokasi Sex Matters yang berbasis di Inggris, menyambut baik keputusan ini.
Menurutnya, selama ini banyak organisasi olahraga dunia kehilangan arah karena tidak adanya standar baku dari otoritas tertinggi seperti IOC.
"Olahraga wanita hanya bisa diperuntukkan bagi mereka yang perempuan secara biologis," tegas McAnena dalam wawancaranya dengan Reuters pada Jumat (27/3).
Ia menekankan bahwa pengaruh IOC sangat besar; jika IOC tegas, maka federasi olahraga di bawahnya akan memiliki landasan kuat untuk menjaga kategori wanita tetap kompetitif.
Baginya, atlet wanita justru cenderung mundur dari kompetisi jika dipaksa bertanding melawan individu dengan keunggulan biologis pria, atau saat ruang ganti tidak lagi bersifat single-sex.
Meski mendukung, McAnena menyayangkan aturan ini tidak berlaku surut. Ia merujuk pada kasus Olimpiade Rio 2016, di mana medali lari 800 meter putri dikuasai oleh atlet dengan gangguan perkembangan seks (DSD).
"Tiga wanita kehilangan medali mereka karena kalah dari atlet dengan keunggulan biologis. Sayang sekali ketidakadilan masa lalu itu tidak bisa diperbaiki," tambahnya.
Baca Juga: Daftar Top Skor Liverpool Sepanjang Masa, Di Mana Posisi Mohamed Salah?
Politisasi dan Risiko Atlet di Bawah Umur
Di pihak berbeda, Dr. Payoshni Mitra, pendiri Humans of Sport, melayangkan kritik tajam. Ia menyebut kebijakan ini sebagai bencana perlindungan yang lebih didorong oleh sentimen politik ketimbang data ilmiah yang solid.
"Ini bukan berbasis sains, tapi berbasis stigma. Ini lahir dari tekanan politik," ujar Mitra.
Ia mengaku terkejut karena aturan ini juga menyasar atlet di bawah umur (minor) yang berlaga di Youth Olympics maupun kualifikasi Olimpiade.
Perlu diketahui, pada Olimpiade Paris lalu, terdapat sekitar 14 atlet di bawah umur, termasuk skater asal China, Zheng Haohao, yang baru berusia 11 tahun.
Mitra mencurigai adanya pengaruh dari peta politik Amerika Serikat, yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas mendatang di Los Angeles.
Baca Juga: Kapan Piala Dunia 2026 Dimulai? Ini Jadwal Laga Pembuka dan Partai Final
Standar World Athletics dan Tes Genetik
Sebelum langkah IOC ini, federasi atletik dunia atau World Athletics telah lebih dulu memperketat aturan pada 2023.
Mereka melarang wanita transgender yang telah melewati masa pubertas pria untuk berkompetisi di kategori wanita.
Bahkan, pada kejuaraan dunia tahun lalu, para atlet wanita diwajibkan menjalani tes genetik satu kali untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi.
Juru bicara World Athletics menyatakan bahwa konsistensi di seluruh cabang olahraga adalah hal positif untuk memastikan tidak ada koridor biologis yang dirusak oleh faktor gender.
Baca Juga: Lionel Messi Lampaui Rekor Pele Lewat Gol Tendangan Bebas ke-71
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News