KONTAN.CO.ID - Paris Saint-Germain alias PSG kembali menunjukkan dominasinya di Liga Champions 2025/26 dengan lolos ke semifinal dengan cukup mulus.
Sebagai juara bertahan, PSG memang wajib menunjukkan performa yang menjanjikan.
Di bawah arahan pelatih Luis Enrique, tim kaya asal Paris ini sukses menjelma menjadi salah satu kekuatan paling menakutkan di Eropa.
Baca Juga: Rekor Sempurna Arsenal di Liga Champions, Apakah Bisa Juara?
Perjalanan PSG di Liga Champions 2026
PSG memang sempat tampil tidak konsisten di fase liga, namun bangkit luar biasa di fase gugur.
Berikut adalah rincian perjalanan PSG di UCL musim ini:
- Fase liga: 4 menang, 2 imbang, 2 kalah (21 gol, 11 kebobolan)
- Play-off knockout: menang agregat 5-4 vs AS Monaco
- 16 besar: menang agregat 8-2 vs Chelsea
- Perempat final: menang agregat 4-0 vs Liverpool.
PSG juga berstatus juara bertahan setelah musim lalu menghancurkan Inter Milan dengan skor telak 5-0 di final.
Catatan dominan itu jelas akan berusaha dicapai lagi tahun ini. Jika dilihat dari performa sejauh ini, hal itu sangat mungkin terjadi lagi.
Baca Juga: Liga Inggris Dapat Jatah 5 Tim di UCL Musim 2026/27, Ini Penjelasannya
Alasan PSG Bisa Juara Lagi
Meski sempat tersendat di fase liga, PSG menunjukkan kualitas sesungguhnya di fase gugur. Kemenangan telak atas Chelsea dan Liverpool menjadi bukti kekuatan lini serang mereka.
Dengan kombinasi kemampuan individu, intensitas permainan tinggi, dan organisasi tim yang rapi, PSG mampu mengalahkan tim-tim elite Eropa.
Dari segi teknis, Luis Enrique sukses membentuk PSG sebagai tim modern yang dinamis.
Di lini belakang, Marquinhos dan Willian Pacho menjadi fondasi pertahanan. Sementara itu, bek sayap seperti Nuno Mendes dan Achraf Hakimi kerap berperan sebagai winger tambahan.
Di lini tengah, Vitinha dan Joao Neves mengatur tempo permainan.
Sedangkan lini depan dihuni pemain cepat dan kreatif seperti Bradley Barcola, Ousmane Dembele, Desire Doue, dan Khvicha Kvaratskhelia.
Meski demikian, PSG masih memiliki kelemahan, seperti inkonsistensi dan penyelesaian akhir yang terkadang kurang maksimal.
Baca Juga: Sejarah Arsenal: Pertama Kali Lolos Semifinal UCL Dua Musim Beruntun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News