Kontroversi Tiket Piala Dunia 2026, Dua Jaksa Agung AS Panggil Paksa FIFA

Kamis, 28 Mei 2026 | 09:28 WIB
Kontroversi Tiket Piala Dunia 2026, Dua Jaksa Agung AS Panggil Paksa FIFA

ILUSTRASI. Trofi FIFA World Cup (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: FIFA.com,Reuters  | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - FIFA sudah terseret kontroversi besar mengenai sistem penjualan tiket Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung kurang dari satu bulan lagi.

Mengutip Reuters, Jaksa Agung New York Letitia James dan Jaksa Agung New Jersey Jennifer Davenport pada Rabu (27/5) secara resmi mengeluarkan subpoena atau surat panggilan paksa kepada FIFA.

Keduanya secara khusus meminta rincian praktik tiket untuk delapan pertandingan Piala Dunia yang digelar di New Jersey, termasuk partai final pada 19 Juli 2026.

Baca Juga: Crystal Palace Juara Conference League, Inggris Resmi Kirim 9 Klub ke Eropa

Pembeli Dapat Kursi yang Tidak Sesuai

Salah satu keluhan utama yang mendorong penyelidikan ini adalah adanya laporan dari sejumlah penggemar yang merasa dirugikan.

Banyak calon penonton yang mengklaim telah membeli dan membayar tiket Kategori 1 yang dekat dengan lapangan, namun justru menerima kursi di area Kategori 2 yang lebih jauh dari lapangan.

"Warga New York sudah menunggu bertahun-tahun agar Piala Dunia hadir di halaman rumah mereka, dan mereka berhak mendapat kesempatan yang adil dengan harga yang wajar. Tidak ada yang boleh dipaksa membayar harga selangit untuk kursi yang tidak sesuai," ujar James.

Davenport menambahkan, FIFA telah mengubah proses pembelian tiket menjadi pengalaman yang penuh kebingungan, kelangkaan buatan, dan harga yang tidak masuk akal.

Baca Juga: Daftar Stadion Piala Dunia 2026: Venue Final hingga Stadion Terbesar

Harga Tiket Piala Dunia 2026 Terlalu Mahal

James dan Davenport juga menyatakan akan menginvestigasi kebijakan harga tiket FIFA untuk Piala Dunia 2026, yang mereka sebut telah "jauh melampaui" harga di semua edisi Piala Dunia sebelumnya.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, FIFA menerapkan sistem dynamic pricing atau sistem harga tiket yang berubah-ubah tergantung permintaan real-time, ketersediaan stok, dan popularitas pertandingan.

Akibatnya, harga tiket di platform penjualan resmi FIFA melonjak drastis.

Pada Maret lalu, puluhan anggota parlemen AS juga telah mengirim surat kepada FIFA. Mereka mendesak organisasi itu menurunkan harga tiket dan menyebut penerapan dynamic pricing telah menjadikan Piala Dunia sebagai ajang eksklusif yang tidak terjangkau oleh penggemar biasa.

Baca Juga: Update Cedera Lionel Messi: Diduga Hamstring, Terancam Absen di Piala Dunia?

FIFA Klaim Terima 500 Juta Permintaan Tiket

Di tengah masalah tiket tersebut, Presiden FIFA Gianni Infantino masih bisa tampil percaya diri.

Berbicara di Kongres FIFA ke-76 bulan lalu di Vancouver, ia menyebut permintaan tiket telah mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Kami telah menjual 100% dari inventaris yang kami keluarkan ke pasar, yang kurang lebih mencakup 90% dari total inventaris global sejauh ini," kata Infantino.

Ia juga menyebutkan bahwa sudah ada 500 juta permintaan tiket yang masuk untuk turnamen yang kini diperluas menjadi 48 tim ini.

Gubernur New Jersey Mikie Sherrill ikut angkat bicara. Meski menyatakan antusiasme negaranya menjadi tuan rumah, ia menegaskan tidak ada yang boleh mengeksploitasi penggemar. 

"Saya mengapresiasi para Jaksa Agung yang berdiri membela konsumen dan menyelidiki apakah mereka telah disesatkan," ujarnya.

Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung mulai 11 Juni, digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Baca Juga: Daftar 10 Pemain Termahal yang Gagal Lolos ke Piala Dunia 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Video Terkait


Terbaru